×

Thanks, For Completed Me!

  • Share this:
post-title -

Sejurus kemudian selesai kami berdebat, anak kecil itu sudah tidak ada lagi. Kami buru-buru masuk kekamar dan sembunyi di dalam selimut. Yang kakinya keluar selimut digigit hantu. Langsung aja berebut selimut sampai tonjok-tonjokan.

Aslan Saputra

* Semoga ketika istriku terbangun dan membaca tulisan ini, ia menciumku.

Thanks my lovely wife for completed me!

Sayang, Terima kasih karena telah mempercayaiku untuk menjadi suamimu. Selamat satu bulan pernikahan!

Mimpi-mimpi kami banyak. Setiap hari, kami selalu saling menguatkan untuk bisa menggapai mimpi kami. Ia mempunyai mimpi yang aku terlibat di dalamnya. Dan mimpiku kini adalah mewujudkan mimpinya. InsyaAllah dari hari ke hari rezeki semakin lancar dan perjalanan menuju mimpi semakin terbuka lebar. Alhamdulillah.

Inginku, bisa terus dan terus membahagiakannya. Bisa membuatnya bangga dengan diriku yang apa adanya. Bisa mencukupi kebutuhannya lahir dan bathin. Bisa memiliki keturunan yang bisa menyejukkan mata kami sebagai orang tua.

Ayi, aku mencintainya. Setiap melihat wajahnya, hati selalu bergetar membayangkan bagaimana nanti ketika kami telah berumur tua. Apakah kami akan bertemu di surga atau tidak. Apakah nanti aku yang akan duluan meninggal ataukah ia. Apakah ia sanggup hidup tanpaku ataukah aku yang tidak sanggup hidup tanpanya? Jujur aku tidak sanggup.

KETIKA aku menulis ini, ia, istriku, sedang tertidur. Aku sengaja menulis ini agak larut karena takut terlihat olehnya. Karena kadang tiba-tiba ia sering memelukku dari belakang ketika aku sedang duduk di meja kerja. Aku hanya ingin bercerita tentang kebahagiaan yang kian hari terus bertambah. Karena hari ini genap sebulan kami menikah.

Ia sering kali mengingatkanku untuk berdoa setiap kali sela-sela waktu adzan dan iqamah. Kalau aku malah beda. Kadang aku sering memanggilnya setelah melihat ada anak tetangga yang sedang berdiri di rumahnya. “Jangan bilang kalau cuma abang yang lihat anak kecil itu!”, kataku. “Alah abang ni. Memang ada anak itu. Abang kira itu hantu? Fyuuh”

Ayi termasuk orang yang ribut ketika menonton film. Kadang ketika kami berdua nonton bareng, ia sering menanyakan hal-hal yang teknis, yang aku pun tidak tahu apa jawabannya. “Bang, itu kenapa dia diburon-buron polisi? Itu dia nanti mati atau enggak? Itu habis ini mau kemana dia?”

Setiap aku lelah, aku paling suka melihat wajahnya. Ketika tersenyum, lesung pipit di kedua pipi tembamnya terlihat. Kadang-kadang kami malah adu cepat siapa yang paling cepat menggerakkan lubang hidung. Kalau dia berteriak menang, langsung saja aku jepit hidungnya. Lalu pada akhirnya malah balas-balas adu jepit hidung.

Ia selalu sigap menyediakan makananku. Baginya, aku tidak boleh sedikitpun telat makan. Harus bergizi dan sehat. Makanya kini berat badanku pun naik. Setiap melihat ke kaca, perut selalu menjadi pemandangan yang tidak mengenakkan. Namun ia selalu mengatakan, “Berperut itu kan kaya orang-orang hebat. Lihat tu Ridwan Kamil, Anies Baswedan, SBY, berperut semua. Woles aja sayang.”

Sesekali, ia seperti adik kecil yang ingin dimanja-manja. Di lain waktu, ia seperti seorang kakak yang menasehatiku. Kami sering bertukar posisi. Kalau ia yang ingin dimanja, maka aku berperan sebagai seorang abang yang penyayang. Kalau aku yang ingin dimanja, dia seperti seorang kakak yang me-pukpuk bahuku dan membuatku tertidur.

Ketika aku pusing dengan pekerjaan, ia menatapku hangat, lalu memelukku. Sambil menggosok punggung belakangku. Kami tidak banyak berkata, karena dengan diamlah ketentraman itu bisa mengalir dari kedua hati kami.

Setiap pagi, ketika bangun tidur, ada seseorang yang menghangatkan keningku dengan kecupannya lalu mengatakan, “Selamat pagi sayangku!” Setiap malam, selalu ada teman bercerita sebelum kami sama-sama melompat ke dunia mimpi. Kadang kala sampai larut malam bercerita ini itu baru tertidur. Aku paling suka saat melihatnya makan apapun. Ayi selalu menyipitkan matanya setiap makan sesuatu, seakan-akan makanan itu pedas, padahal tidak. Kalau makan masakan pedas, keringat bercucuran dari hidung dan kening. Setiap kali makanannya tidak habis, aku selalu menghabiskannya. Mengganti piringnya dengan piringku, dan seakan-akan ia yang duluan habis.

Namanya Sri Luhur Syastari Syadza Nada Afifah. Seringnya dipanggil Ayi. Tapi aku punya panggilan lain. Karena kami masih muda, kami masih sering bertingkah layaknya remaja pada umumnya. Tertawa, pukul-pukulan, lompat-lompat, bahkan sampai menciptakan lagu sendiri ketika jalan-jalan naik motor bersama. Kalau kami lagi serius, seakan-akan sedang melakukan rapat kerja organisasi. Bisa-bisa sampai naik ke atas meja atau ke atas lemari.


Related Post:

Mendadak Gendut

Mendadak dangdut atau mendadak gendut? Jika bicara gendut, mungkin sebagian orang percaya jika gendut tidak akan terjadi secara mendadak, berbeda dengan dangdut yang bisa saja dinyanyikan ol...

Made in tunosite