AWALNYA aku tidak pernah sedikitpun punya keinginan untuk ke Jepang. Negara impian paling jauh saat itu Malaysia atau Australia. Walau di Jepang aku telah memiliki beberapa teman, tapi tetap saja rasanya mustahil. Hingga akhirnya aku hanya tersenyum getir, ketika temanku, Takeshi-san berharap agar aku bisa mengunjungi rumahnya kelak di sana.
Aku dan Takeshi-san bertemu di Sabang, ketika hari raya Idul Adha. Saat itu zhuhur. Kami berjumpa di sebuah mesjid, ketika aku dan saudara hendak melanjutkan perjalanan menuju pantai iboih. Di depan masjid, aku sudah melihatnya sekali. Tampak ia seperti turis. Maka selesai shalat, aku buru-buru mendatanginya.
Kami berkenalan. Ia menyebut Jepang sebagai kampung halamannya. Wah! Aku shock! Jepang? Pertemuan itu tidak berlangsung lama sebab pada kami berdua punya keperluan lain yang harus dilakukan. Ia memberiku kartu nama. Pas! Kebetulan aku juga punya kartu nama. Sebelum aku berikan kepadanya, aku sempat menulis alamat blogku di bagian belakang kartu namaku.
“Semoga saja ini bukan pertemuan pertama,” Aku membatin.
Dan ternyata Allah memberi jawaban. Kami bertemu kembali di Banda Aceh dua kali. Pertama ketika aku menawarkan diri untuk membantunya mengadakan Cinema Caravan ke sekolah Ruhul Islam Anak Bangsa. Dan yang kedua, ketika ia memilih Banda Aceh sebagai tempat liburan. Itulah pertama kali bagiku menjadi seorang tourism guide. Hoho.
Sebelumnya kami sudah berteman di facebook. Alhamdulillah, ia membuka blogku dan menemukan alamat facebookku di sana. Nah, sudah tahu manfaat blog? Ayo ngeblog!
Sebelum ia pulang, lagi-lagi kami berharap agar dapat berjumpa lagi. Kali ini ia menawarkan diri untuk menjamuku bila saja aku ke Jakarta atau ke Jepang nanti.
“Wah, Alhamdulillah. InsyaAllah! Semoga saya bisa secepatnya ke Jakarta. Kalau ke jepang, saya nggak bisa janji ya hehe.”
Kemudian, salah satu temanku dari FLP, Isra juga akhirnya berangkat ke Jepang. Nah di sinilah puncaknya. Beberapa hari bersamanya bergelut membersihkan rumcay, tentu saja menyisakan kenangan. Yang membuat hati ini tergerak, ketika ia telah tiba ke sana. Seakan-akan ini mimpi. Dia yang awalnya bersamaku di tanah yang sama, kini sudah terbang dan berpijak di tanah Jepang. Ia bisa? Lantas kenapa aku tidak? Ya, kenapa aku tidak bisa?
Segera haluanpun berputar. Jepang kini menjadi negara tujuan untuk melanjutkan studi nantinya. Persiapan pun aku buat, mulai dari menempelkan sticknote di dinding laboratorium, mengganti wallpaper laptop “Going to Japan 2015”, hingga mengganti selera musik menjadi J-rock. Wouwo!
Sejak saat itu, entah kenapa aku begitu produktif. Tidak ada waktu yang terlewat dengan sia-sia. Ibadahpun makin kuat tatkala berpasrah diri mengharap agar diberikan jalan untuk kesana. Aku pun tidak lupa membagi mimpi ini kepada orang-orang yang aku sayangi. Karena kau tahu kenapa? Aku sudah membuktikan kehebatan berbagi mimpi itu. Partikel-partikel positif yang mereka keluarkan melalui perantara doa, meluncur hebat ke langit, bersatu dengan partikel-partikel lainnya, hingga terbang kepadaNya. Percaya atau tidak, langkahku menuju mimpi itu seakan-akan semakin mudah dan muncul pintu-pintu yang tidak pernah kita duga sebelumnya.
Namun, bukan berarti mimpi itu akan berjalan mulus. Resikonya kita harus siap menerima segala macam cobaan sebagai bentuk konsekuensi atas mimpi besar yang kita usung. Semakin besar mimpi, maka semakin besar pula cobaanya. Sejak saat itu saya tidak pernah takut, dan terkadang malah bersyukur karena muncul beberapa cobaan di depan mata. Bagiku itu adalah pertanda, kalau Allah memberikanku kesempatan untuk membuktikan apakah aku siap untuk meraih mimpi itu atau tidak. Jika saja aku menyerah, maka berhentilah bermimpi.
Mulai dari laptop hilang, kehabisan uang, terbelit di perkuliahan, dan masalah-masalah lainnya. Namun, aku tahu. Di balik kesusahan ada kemudahan. Ketika berkutat pada masalah-masalah itu, sungguh, Allah tetap menunjukkan kasih sayangnya kepadaku. Beragam rezeki mengalir deras kepadaku, berbagai doa menyelimutiku, dan berbagai bantuan menolongku dari arah yang tidak terduga-duga. Masihkah kau berpikir Allah itu tidak adil? Malah jika diurai lagi benang kusut ini, lalu kau melihat kusutan pada simpulnya, maka kau akan tahu, dari awal Allah sudah mempersiapkan segalanya. Ya, segalanya. Jadi jangan pernah takut.
Seperti berita yang baru-baru saja terdengar ini, tentang kesempatanku untuk bisa pergi ke Jepang karena memenangkan lomba JENESYS 2.0. Itu juga salah satu jalan Allah untukku agar bisa ke Jepang. Ini termasuk cara mudah ke Jepang, berbeda dengan program beasiswa yang akan aku ikuti nanti. Program yang membutuhkan kerja keras, memakan waktu yang lama, dan butuh komitmen yang kuat. Seperti aku katakan tadi, ketika aku telah bermimpi untuk ke Jepang, maka Allah membukakan pintu dari arah yang tidak terduga-duga. Hanya tinggal dari diri kita, berani masuk ke pintu itu dan siap menghadapi cobaan, atau menutupnya dan menunggu-nunggu munculnya pintu-pintu yang lain. Semua tergantung pilihan.
Maka ketika ada beberapa teman yang berkata, “Kamu enak bisa pergi ke Jepang, kami apalah hanya butiran debu,”
Tidak! Tidak enak! Bahkan bisa dibilang kami telah berdarah-darah hingga detik penghabisan. Berapa banyak yang telah dikorbankan, itu bagi kami sebagai bayaran atas apa yang ingin kami raih. Ketika kau bangun di pagi hari, sebenarnya kami telah merangkak sejak tengah malam tadi. Bergelut dengan kelelahan, melawan rasa malas.
Dan kini, hanya tinggal berdoa, agar diberikan umur panjang untuk bisa memijakkan kaki di sana. Juga berdoa agar tidak kufur nikmat, takabur, sombong dan hilang diri. Dan tentu saja rasa gugup sebab tidak pernah punya pengalaman naik pesawat terus mengganggu. Alhamdulillah sebentar lagi aku bisa naik pesawat! Horree!!